Selasa, 26 Mei 2009

Menjadi Propagandis? Siapa Takut

Ga terasa udah hampir seminggu penuh saya tidak mengisi blog ini dengan tulisan-tulisan iseng saya. Selama seminggu ini saya lagi ngerjain beberapa proyek poster untuk beberapa acara, yang jujur saja saya ga begitu mendalami teknis-teknis pembuatan poster. Hehehe. Tapi disini saya ga ingin menceritakan apa yang saya kerjakan tersebut. Tapi saya tertarik untuk menulis mengenai propaganda. Ya benar, Propaganda.

Bermula dari kebuntuan saya dalam mencari ide untuk poster yang saya buat, iseng-iseng saya buka Concept Magazine, sebuah majalah desain grafis terbitan Indonesia. Saya ga inget, itu majalah edisi ke berapa dan terbitan kapan, tapi yang jelas saya tertarik dengan main issue yang diangkat. Pada edisi tersebut, Cocept mengangkat mengenai propaganda. Tidak terlepas dari atmosfer sosial di Indonesia tentunya, yang sedang dalam suasana pemilihan umum dan menjelang pemilihan presiden 2009.

Seperti kita tahu, dalam Pemilu dan Pilpress, propaganda memiliki peranan yang sangat penting. Inti dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh tim sukses suatu partai atau calon. Tapi saya tidak ingin terjebak dalam romantisme lima tahunan tersebut. Pemikiran saya melompat menuju esensi propaganda dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada kenyataannya propaganda tidaklah seeksklusif seperti yang kita bayangkan. Propaganda tak ubahnya kegiatan sehari-hari kita, yang selalu membayangi kita tanpa kita sadari. Sejatinya kalau dipikir-pikir, semua kegiatan pada masa ini adalah suatu bentuk propaganda. Pelajaran yang kita terima di sekolah dari TK sampai Lulus kuliah. Berita-berita yang kita konsumsi di Media Massa atau bahkan sekedar gossip yang kita obrolkan dengan tetangga sebelah, adalah wujud-wujud kecil dari sebuah propaganda. Masih ingatkah kalian dengan slogan "orang Pintar Minum T***K A***N"? Ya, saya yakin banyak yang terpengaruh untuk menggunakan produk tersebut, hanya karena ingin dibilang pinter. Ya seperti itulah propaganda, menyerang pada tempat dan saat yang tepat, lalu mencuci otak kita tanpa kita sadari. Tanpa kita sadari

Seperti itulah kekuatan sebuah propaganda. Dia datang tanpa kita sadari dan mulai mempengaruhi hidup kita sesuai dengan tujuan yang diinginkan pelakunya. Dalam dunia modern saat ini, kita banyak sekali dijejali dengan propaganda-proganda yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu, memakai sesuatu atau berpikir tentang sesuatu.

Ga usah jauh-jauh, saya punya satu contoh kecil. Mungkin banyak rekan-rekan banyak yang masih ingat, bagaimana kita trauma dan merasa seram setiap mendengar kata "G30 S/PKI" atau "peristiwa 66". Selama bertahun-tahun kita ditawarkan cerita mengenai peristiwa itu, dan perlahan-lahan kita mengakui kebenarannya, Padahal ahli sejarahpun tidak berani memastikan apa yang benar-benar terjadi pada saat itu.

Propaganda

Pengertian Propaganda


Propaganda (dari bahasa Latin modern: propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan. ) adalah rangkaian pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sejumlah orang yang banyak. Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk mempengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya.

Propaganda kadang menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda lebih menyampaikan fakta-fakta yang pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk merubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran yang lebih lanjut untuk kepentingan agenda politik.

Propaganda adalah sebuah upaya disengaja dan sistematis untuk membentuk persepsi, memanipulasi alam pikiran atau kognisi, dan berpengaruh langsung pada perilaku untuk pencapaian suatu respon yang sama dengan niat yang dikehendaki dari pelaku propaganda.

Sebagai komunikasi satu ke banyak orang (one-to-many), propaganda memisahkan komunikator dari komunikannya. Namun menurut Ellul, komunikator dalam propaganda sebenarnya merupakan wakil dari organisasi yang berusaha melakukan pengontrolan terhadap masyarakat komunikannya. Sehingga dapat disimpulkan, komunikator dalam propaganda adalah seorang yang ahli dalam teknik penguasaan/kontrol sosial. Dengan berbagai macam teknis, setiap penguasa negara atau yang bercita-cita menjadi penguasa negara harus mempergunakan propaganda sebagai suatu mekanisme alat kontrol sosial.

* Jacques Ellul mendefinikan propaganda sebagai komunikasi yang “digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-individu, diersatukan secara psikologis dan tergabungkan di dalam suatu kumpulan atau organisasi.” Bagi Ellul, propaganda erat kaitannya dengan organisasi dan tindakan, yang tanpa propaganda praktis tidak ada.

* Dalam Everyman's encyclopedia propaganda merupakan suatu seni untuk menyebarkan dan meyakinkan suatu kepercayaan, khususnya kepercayaan agama atau politik.

* Leonard W. Dobb, sebagai pakar opini publik, menyatakan bahwa propaganda merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh individu-individu yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok termasuk dengan cara menggunakan sugesti, sehingga berakibat menjadi kontrol terhadap kegiatan kelompok tersebut.

* Menurut Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja.

Propaganda sudah ada sejak awal terdokumentasinya sejarah manusia. Inskrpsi Behistun (515 SM) yang menggambarkan kenaikan Darius I ke tahta Persia merupakan contoh propaganda awal. Arthashastra yang ditulis oleh Chanakya (350 - 283 SM), profesor di Universitas Takshashila, membahas propaganda secara detil, termasuk cara menyebarkan propaganda dan pemakaiannya dalam peperangan. Muridnya, Chandragupta Maurya (340 - 293 SM), menggunakan cara-cara ini untuk mendirikan dan menjadi pemimpin Kekaisaran Maurya. Tulisan karya penulis Romawi Kuno seperti Livy (59 SM - 17 M) dianggap propaganda pro-Romawi yang hebat. Contoh lain adalah The War of the Irish with the Foreigners abad ke-12, oleh para Dál gCais yang menggambarkan mereka sebagai penguasa sejati Irlandia.

kalau dilihat dari penjelasan panjang lebar diatas (yang sayapun malas untuk membacanya), seorang blogger pun dapat dikatakan sebagai seorang propagandis. Apa yang ditulis oleh seorang blogger, akan banyak dipercayai oleh pembaca blog tersebut, terlepas dari benar tidaknya informasi tersebut. Yeah, setidaknya dengan menulis hal ini, saya akan lebih berhati-hati dan mampu untuk bertanggung jawab terhadap apa yang saya tulis di blog ini. hehehe

Jangan Pernah Percaya Apa yang Orang Lain Katakan Kepadamu, Sebelum Kau Melihat dan Membuktikannya Sendiri

3 komentar:

Bunda Lina mengatakan...

hehehe baru nyadar yaa
makasih dah mengingatkan Mas
saya juga akan lebih berhati-hati
klo yang ditulis yang baik-baik
cap propagandis akan berubah menjadi motivator
bener ga??

deINDIES mengatakan...

udah lama ga mampir kemari, pas kebaca nih tulisan tanpa terasa kita sebagai para blogger juga merupakan bagian dari agen2 propaganda yah

foto mengatakan...

SAHABAT-SAHABAT BLOGGER, SAYA MENGAJAK PARA SAHABAT UNTUK BERTUKAR LINK, SELAIN UNTUK MEMPERERAT HUBUNGAN SESAMA BLOGGER JUGA BERMANFAAT UNTUK MENINGKATKAN TRAFFIC ATAU PAGERANK.

Poskan Komentar

Woi..WOi... Kalau sempat tinggalin komen ya.. Tapi jangan asal komen. Kalimat "pertamax", "Wah Hebat" "Bagus" dan kalimat2 singkat sejenis, akan menjadi pertimbangan untuk saya reject.. hehehe so sorry broo..

 
© free template by Freelance Graphic Designer